Subscribers

Artikel

13/08/2013

Dibalik Kisah Wikileaks

  

Lokomotif Pembocoran Informasi Rahasia Amerika Serikat (AS)
   Wikileaks (sebuah situs informasi online) mewarnai tahun 2010 dengan kehebohan yang membuat AS, Prancis, Inggris dan Australia uring-uringan. Sejumlah dokumen berklasifikasi top secret (sangat rahasia) dibocorkan secara terang-terangan oleh Julian Assenge, bos Wikileaks. Singapura-pun lebih berhati-hati untuk berbicara dengan AS, setelah Wikileaks berhasil membocorkan sikap mantan PM Singapura Lee Kuan Yew yang mengatakan juntan militer Myanmar sebagai sekumpulan orang-orang bodoh dan pejabat Korea Utara yang psikopat.

   Lebih dari 300.000 dokumen rahasia AS bocor di Internet. AS tidak menampik kesahihan dokumen-dokumen itu. Hal ini semakin menguatkan dugaan pernyataan sikap bahwa apa yang dilakukan oleh Wikileaks akan membahayakan keselamatan para agen-agen rahasia mereka di seluruh dunia serta menempatkan para aktivis dan penggerak propaganda AS di seluruh dunia dalam posisi yang sangat sulit. Diplomasi AS akan sangat terganggu dengan adanya pembocoran itu. Australia-pun menyalahkan lemahnya keamanan arsip dan intelijen AS.


   Banyak dari dokumen-dokumen tersebut berisi rencana-rencana buruk AS yang melakukan intervensi-intervensi di beberapa negara yang dianggap sebagai musuh demokrasi, termasuk kekejaman yang dilakukan para tentara AS di penjara teroris Guantanamo, serta kebiadabannya di Irak, Pakistan, dan Afghanistan. Indonesia sendiri sempat merasa cemas dengan disebut-sebutnya nama Indonesia dalam rilis-rilis informasi Wikileaks, meskipun kemudian Menkoinfo, Tifatul Sembiring menyatakan tidak perlu khawatir atas masalah tersebut.


   Assange Harus Dihentikan

   Tampaknya AS kehilangan akal untuk menggulung Assage. Ancaman-ancaman pembunuhan yang diduga didalangi oleh intelijen AS diacuhkan oleh Assenge. Bahkan, setelah AS dan Prancis menghadang dan menyetop serve-serve di kedua negara tersebut untuk bisa dipergunakan oleh Wikileaks, Assenge tidak kehilangan akal untuk memindahkan servenya ke Swiss. Ia akan terus memindakannya setiap kali servenya diblokir di suatu negara. Ia bertekad tetap akan melakukan kewajiban jurnalistikya membongkar semua kebusukan pemerintah dan militer AS. Inilah yang membuat banyak negara yang terhubung dengan kebijakan-kebijakan Gedung Putih menjadi cemas. Para penganut teori konspirasi percaya bahwa AS dan para sekutunya melakukan segala cara untuk menjatuhkan Assenge, tanpa harus dituduh telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Mereka haru membuat agar citra Assenge menjadi buruk di mata internasional. Dunia harus percaya bahwa seorang Assenge adalah psikopat, kriminal yang tidak bisa dipercaya. Lagi-lagi sama seperti yang diduga terjadi di Malaysia. Isu seks-pun menjadi kartu truf untuk menjatuhkan Assenge.

   Seolah-olah terjadi dengan sangat kebetulan, pengadilan Swedia-pun mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Assenge atas tuduhan penyerang seksual kepada dua orang perempuan Swedia. Namun uniknya, Anna Ardin, salah satu di antara mereka justru memutuskan untuk menghentikan layanan mengaduan kasus tersebut. Menurut informasi, ia pindah ke Palestina untuk menjadi relawan. Beberapa status di twitter milih Ardin, justru dipandang sebagai sikap simpatinya kepada situs Wikileaks yang diblokir donasi dananya oleh negara-negara atas perintah AS. "Mastercard, Visa dan Paypal mereka sekarang." Demikian tulis Ardin yang ditafsir sebagai sikap simpatinya terhadap Wikileaks yang dihalangi untuk menerima donasi finansial dari para pendukung Wikileaks.


   Dengan banyaknya keganjilan yang ada, menjadi wajar ketika banyak orang menduga bahwa tuduhan penyerangan seksual terhadap dua perempuan Swedia itu merupakan skenario yang sengaja dibangun oleh sebuah komplotan untuk menyingkirkan Assenge dan Wikileaks-nya. Pengacara Assenge menduga upaya dari Jaksa Agung AS untuk dapat mengekstradisi (penyerahan orang yang dianggap melakukan kriminalitas oleh suatu negara kepada negara lain yang diatur dalam perjanjian antara negara yang bersangkutan) Assenge agar dapat diadili di AS.


   Senjata Pamungkas Assenge

   Assenge menyadari betul bagaimana berbahayanya situasi yang harus dihadapinya. Jika kemungkinan diekstradisi ke Amerika masih dianggap terlalu ringan, kemungkinan terburuk adalah ia akan 'dihilangkan'. Untuk itu, Assenge telah mempersiapkan sebuah bundel dokumen rahasia yang dienkripsi (ditulis dengan kode sandi) dengan sebuah password yang dinamakan 'Cablegate'. Apabila terjadi apa-apa pada dirinya, enkripsi (kode) berisi dokumen-dokumen rahasia itu akan tersebar secara otomatis untuk dibuka habis-habisan di media massa.
Baca selengkapnya »

07/08/2013

Guruku, Orang Tuaku



   


   Haiii!
   Udah lama gue ngga ngepost nih. Maklu lagi puasa, jadi jari gue ikutan kelaperan.
   Kali ini gue mau ngepost cerita nonfiksi gue yang pernah gue ikuti dalam lomba "Fatigon aksi semangat". Lombanya membuat sebuah cerita yang bisa menginspirasi para pembaca lainnnya, dan alhamdullilah dari ribuan peserta yang ikut, gue bisa masuk 5 besar.

   Waktu babak final, kelima orang yang terpilih di undang dalam acara KickAndy di MetroTV. Btw, untuk videonya blm gue search, entar kalau udah ada gue bakal edite ulang post ini + share video yang di tayangin dari metro tv. 

   Oke, langsung aja cek cerita dari gue! Have fun reading!   

  Menjadi guru bukanlah pekerjaan mudah, Didalamnya dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab sejatinya guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya. Menjadi guru bukan sesuatu yang gampang, apalagi menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai keistimewaan.

  Guru saya berama Ibu “Tuti” saya mengenalnya ketika masuk kelas 1 SMA.  Ia memiliki badan yang tidak terlalu tinggi, gendut, dan berkaca mata serta selalu berpakaian rapi. Ia berdiri di depan ruang kelas pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya.

  Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Alfredo.

  Ibu Tuti sudah mengawasi Alfredo setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya yang kedodoran dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan alias kotor. Dan Alfredo bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ibu Tuti kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Alfredo dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Alfredo.

  Di sekolah tempat Ibu Tuti mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan catatan Alfredo di giliran terakhir. Saat membaca catatan Alfredo ia terkejut. Wali kelas satu Alfredo menulis, Alfredo adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik. Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya. 

  Tidak hanya wali kelas di kelas satu, tetapi semua guru pun menulis demikian, Alfredo adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi konsentrasinya terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Alfredo.

  Guru kelas duanya menulis, ia mendengar kematian ibunya dan ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.

  Semenjak kejadian itu banyak guru-guru yang berkomentar tidak seperti tahun lalu, Alfredo menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah. Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.

  Setelah itu, Ibu Tuti menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah ketika hari guru, yang dibungkus dengan pita-pita yang indah serta sampul batik, kecuali pemberian Alfredo. Hadiah dari Alfredo kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja.

  Ibu Tuti dengan terharu membuka kado Alfredo ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.

  Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Alfredo sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.

  Setelah sekolah usai, Alfredo tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ibu Tuti, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya. Setelah murid-muridnya pergi, Ibu Tuti menangis hampir selama satu jam.

  Ibu Tuti memberi perhatian khusus kapada Alfredo. Selama bekerja dengannya, pikiran Alfredo mulai hidup. Semakin ia mendorong, semakin cepat Alfredo memberikan tanggapan.

  Di akhir tahun, Alfredo menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ibu Tuti jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Alfredo telah menjadi murid kesayangannya.

  Satu tahun berlalu, Ibu Tuti menemukan sebuah surat di bawah pintu, dari Alfredo, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

  Lima tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Alfredo. Ia mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi di kuliahnya UI (Universitas Indonesia), ranking satu di kelas, dan Ibu Tuti tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

  Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi. Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya yang kedua, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ibu Tuti tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

  Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Alfredo berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ibu Tuti bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin. Tentu saja Ibu Tuti bersedia.

  Dan coba tebak apa berikutnya? Ibu Tuti mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Alfredo dipakai ibunya pada hari guru ketika masih bisa bersama-sama.

  Mereka berpelukan, dan Dr.Alfredo berbisik di telinga Ibu Tuti, "Terima kasih Ibu Tuti, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan."

  Ibu Tuti dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata, "Nak.., semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu."

  Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh atau merubah diri seseorang.


Pesan Singkat :
"Ingat, Guru adalah teman, teman adalah adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang"




-Selesai- 

Baca selengkapnya »
Powered by Blogger.

Gallery